“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)

Minggu, 23 Maret 2014

Pengorbanan Cinta Salman Al-Farisi ra. (Cinta Karena Allah SWT)

Alangkah bahagianya bila kita dapat menikahi seseorang yang kita cintai. Namun, bagaimana bila seseorang yang kita cintai pada takdir yang ditetapkan-Nya harus menikah dengan orang lain atau bahkan sahabat kita sendiri. Hal ini bukan cerita dongeng, pengorbanan demikian pernah dialami oleh salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, ia adalah Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu. Cintanya harus dikorbankan untuk saudaranya yang ia cintai karena Allah.

***

Salman al-Farisi pada awal hidupnya adalah seorang bangsawan dari Persia, sebagai seorang Persia ia menganut agama Majusi, tapi ia tidak merasa nyaman dengan agamanya. Kemudian ia mengalami pergolakan batin untuk mencari agama yang dapat menentramkan hatinya. Pencarian agamanya membawa hingga ke jazirah Arab dan akhirnya memeluk agama Islam.
Ia menjadi pahlawan dengan ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam pertempuran khandaq. Setelah meninggalnya Nabi Muhammad, ia dikirim untuk menjadi gubernur di daerah kelahirannya, hingga ia wafat. Salman termasuk sahabat nabi yang dekat bahkan ada sebuah riwayat Rasulullah saw menyatakan, “Salman termasuk keluraga bagi kami.”

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” teman baik ku dunia akhirat. Dan aku akan menjadi saksi pernikahan bersejarah kalian!” air mata kasih dan syukur membening suasana redup di suatu petang itu.

Subhanallah..sebuah pengorbanan cinta yang agung dan menharukan. Begitulah apabila cinta didasarkan pada cinta karena Allah. Sakit.. akan menjadi Indah..karena Allah.







ref: dari buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah
(zafaran/muslimahzone.com)


Jumat, 28 Februari 2014

Semuanya teka-teki


 

"Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara,

 tapi tidak gampang untuk diam.

 Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, 

dan apakah sebuah isyarat akan sampai. 

Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, 

atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. 

Semuanya teka-teki.” 

 ―

Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir.

  

 

 

Kamis, 27 Februari 2014

Sepatah doa, dalam dakwah


Bukanlah suatu masalah bila diriku tak kau ingat dalam setiap langkahmu, karena perkenalan kitapun tak untuk saling bertatap juga tak untuk saling berkata kcuali karena amanah dakwah yg telah kita emban.

Tapi, aku tak pernah lalai untuk menyelipkan sepatah doa untuk kebaikan kita lewat sujudku kepada-Nya, dan kuharap begitu pula denganmu disana. Aku sadar benar bahwa diriku adalah makhluk Tuhan yang jauh dari sempurna.. pun kuharap kau menyadarinya dan kita sama2 berserah hanya kepada Nya, saling memperbaiki diri.

Dan doa kita lah yang akan menuntun jalan kita kepada cita-cita kita masing2...
Doa itu pula yang akan mempertemukan kita kembali suatu saat nanti, di waktu yg tepat & dengan cara yg baik.
Maka doa pun yang juga akan membuat kita besabar dalam penantian panjang. Percayalah :)) --- Candra Ayu F


Kamis, 30 Januari 2014

Seberapa besar cintaku padamu?


sebesar apa cintaku padamu?
waktu kelak akan memberitahu

karena rasa ini belum pantas diucap
tidak selagi aku masih belum siap

karena satu ucapan bisa menodai hati
 noktah maksiat yang menenggelamkan diri

aku terlanjur terjembab dalam lubang rasa
 bicara atau diam itu sama-sama menyiksa

namun bila terucap bukan hanya menyiksa namun sisakan dosa
karena kita sama-sama belum siap dan memendam rasa bisa jadi nista

masa depanku dan masa depanmu siapa yang tahu?
 namun terkadang kebodohan mengambil alih akal sehatku

kukira dengan mencurahkan rasa ini padamu akan menenangkan
padahal kutahu itu awal musibah yang berujung pada penyesalan
  

maka mungkin diam adalah jalan yang terbaik,
atau kujadikan saja ia beberapa lirik?

bagaimanapun aku tak punya muka,
 bila harus memulai dengan maksiat



maka biarlah rasa ini masih terpendam tanpa diungkap
sampai waktunya aku mampu dan pantas untuk bercakap

 
seberapa besar cintaku padamu?
 mungkin engkau takkan pernah tahu






 :) 
Repost from Ustadz Felix Siauw